Cheng#Taufiq_Ads

Menu

about

Minggu, 05 Desember 2010

INOVASI TIADA BATAS


Jangan pernah bilang kalau perkembangan kreatifitas dan inovasi anak negeri di bidang teknologi informatika jauh ketinggalan dibanding sumber daya manusia dari negara lain, di hadapan para narasumber Kick Andy episode ini. Anda bisa saja langsung diseret ke tempat mereka dan dibuat bengong dengan sejumlah produk TI mutakhir hasil karya “kecanggihan” otak mereka.

Salah satu contohnya, empat remaja kelas tiga SMK Negeri I Surabaya ini. Irene Erlyn Wina Rachmawan, Putri Dyah Citra Nur Kumala Sari, Rara Indah Permatasari dan Mochamad Basofi Eko Nugroho. Siswa-siswi jurusan rekayasa perangkat lunak dan multimedia ini, sudah sangat jago aplikasi bahasa pemrograman berbasis Java. Untuk sekedar membuat game dan kamus digital untuk handphone, bukan sesuatu yang sulit bagi mereka. Bahkan mereka punya pengalaman unik dan dahsyat saat terpilih sebagai siswa program pertukaran antara Indonesia dengan Kamboja dan Vietnam tahun 2009 lalu. Di dua negara itu, mereka bukannya duduk sebagai siswa, namun justru berposisi sebagai pengajar, bagi para mahasiswa teknik elektro dan sains terapan di kampus teknik dua negara tersebut!

Sementara dari Universitas Bina Nusantara Jakarta, dua tim TI mahasiswa serta alumnus dari kampus ini juga sudah mampu “bersuara lantang” di kancah kompetisi teknologi informatika dan multimedia dunia. Yang lebih membuat salut lagi, teknologi kecerdasan ciptaan mereka, dibuat berdasarkan empati kepada para kalangan yang memiliki keterbatasan fisik. Eye-B Pod karya Stanley Audrey, Victor dan Josphine Klara misalnya. Perangkat lunak ini dibuat berdasarkan kepedulian mereka pada keinginan kaum tuna daksa, yang tak memiliki lengan namun tetap berhasrat tinggi pada komputer. Mereka bertiga membuat aplikasi pengganti mouse dan keyboard komputer, dengan mengandalkan gerakan bola mata serta kedipan!

Sementara produk MLM for the Blind, dari namanya saja pasti sudah ketahuan apa dasar pertimbangan penciptaan aplikasi ini. Yup, Erik Taurino Chandra, Rico Wijaya dan Yudhi merekayasa perangkat keras dan lunak sekaligus, untuk membuat para tuna netra memiliki alat pembaca buku digital portabel. Alat ciptaan mereka ini, mampu menerjemahkan tulisan elektronik atau artikel e-book ke dalam huruf Braille, dan enaknya bisa ditenteng-tenteng kemana saja oleh teman-teman tuna netra. Masalah keterbatasan bahan bacaan bagi para tuna netra, diatasi oleh kreatifitas dahsyat mereka bertiga.

Tak mau kalah dari para jago TI berfisik normal, Eko Ramaditya Adikara juga membuat kita berdecak kagum. Setelah mendemonstrasikan kecanggihan kinerja MLM for the Blind, Rama yang tak bisa melihat sejak lahir ini ternyata juga memperlihatkan hasil karyanya. Rama adalah tuna netra yang berprofesi sebagai seorang sound engineer digital, alias komposer musik digital yang harus menggunakan komputer juga. Prestasinya tak tanggung-tanggung. Ia berhasil menyisihkan ribuan sound engineer pada kompetisi pembuatan ilustrasi musik untuk game digital Super Mario Galaksi keluaran Nintendo serta sejumlah game online lain seperti Ragnarok dan Final Fantasy VII.

Sementara 2 narasumber lain asal Bandung, juga tak kalah inovatif. Tim TI mahasiswi ITB yang berjuluk Putri Petir misalnya, menciptakan game interaktif yang berbasis kepedulian pada pelestarian seni dan budaya tradisional Indonesia. Mereka berhasil membuat Tari Saman Digital, yang dibuat serupa dengan game Dance-Dance Revolution. Jika saja aplikasi ini sudah mampu diproduksi secara massal, tak pelak game tarian yang bernama keren Thousand Hand Revolution ini, merupakan salah satu gerakan memperkenalkan seni budaya asli Indonesia yang dilakukan secara efektif dan menyenangkan.

Narasumber satunya dari Bandung, adalah komunitas anak muda pecinta TI sekaligus asas Bhineka Tunggal Ika, ABIGDEV. Komunitas yang juga perusahaan pengembang game digital ini, telah memiliki 8 produk game digital yang tersebar dan dimainkan di situs-situs jejaring sosial secara online. Dua di antaranya adalah game bisa dipakai sebagai permaainan an sich sekaligus sebagai sarana pembelajaran dan pengenalan berbagai adat istiadat, seni budaya dan kekayaan tradisional warisan nenek moyang di berbagai suku dan daerah Indonesia. Angklung Heroes dan Nusa Challenge, adalah produk yang lahir didasari keprihatian Fajar Persada Supandi dan teman-temannya di ABIGDEV, terhadap isu klaim budaya Indonesia oleh Malaysia beberapa waktu lalu, serta langkanya game yang “berbicara” tentang kekayaan budaya Indonesia.

Dan narasumber berikutnya, adalah perusahaan pencipta ribuan perangkat lunak pembelajaran matematika dan sains terapan untuk kalangan pelajar SD, SMP dan SMA serta SMK. Pesona Edukasi, terbukti menjawab keraguan lemahnya kreatifitas dan inovasi teknologi informatika dan multimedia SDM Indonesia secara nyata. Siapa sangka, Pesona Edukasi telah mengekspor ribuan software pendidikan hingga ke 23 negara dunia? 3500 sekolah dalam negeri juga telah mengaplikasikan produk TI mereka dalam mata pelajaran matematika dan fisika. Dan berbagai penghargaan dari pemerintah negara-negara di 5 benua serta pengakuan PBB, telah mereka raih. Dan semua karya ciptaan ini, murni hasil kerja keras anak negeri.

Jadi, masih adakah yang meragukan kualitas “otak” bangsa Indonesia di bidang Teknologi Informatika dan Multimedia?
from: kick Andy's show

Tidak ada komentar:

Posting Komentar